Bali, Pusat Hindu Dunia Didukung oleh Faktor Sekala dan Niskala (Hasil Wawancara dengan Ida Pandita Mpu Dharma Jnana Putra, Bangli)

Ida Pandita Mpu Dharma Jnana Putra.

Disepakatinya Bali sebagai Pusat Hindu Dunia tidak dapat dipisahkan dari sejarah masa lalu. Secara niskala (alam tak nyata), Bali diyakini sebagai pusat spiritual yang memiliki energi (taksu) yang luar biasa. Secara sekala (nyata), Bali memiliki keunikan dari sisi adat, budaya Hindu yang adiluhung didukung oleh sifat – sifat dan karakter orang Hindu di Bali yang taat melestarikan tradisi Hindu. Kedua faktor ini didukung oleh hasil temuan ilmiah luar angkasa bahwa Pulau Bali benar-benar bersinar jika diamati dari luar angkasa.

Pulau Bali benar – benar bersinar bukanlah takhyul atau mitos, namun fakta otentik dan ilmiah.   Terbaru adalah pengakuan Sunita Williams, wanita pertama Amerika yang pergi ke Bulan pada  9 Juli 2011. Kembalinya dari Bulan, Sunita Williams langsung memeluk Agama Hindu. Dia berkata,  ”Dari Bulan seluruh permukaan Bumi kelihatan hitam dan gelap kecuali dua tempat yang terang dan bercahaya. Ketika aku lihat dengan teleskop, ternyata tempat itu adalah Pulau Bali dan wilayah India, tepatnya pesisir Sungai Gangga. Di  Bulan, semua frekwensi  suara tidak berfungsi, tapi aku masih mendengar suara Mantra Gayatri dengan nada tersamar-samar” kata Sunita Williams.

Menurut Ida Pandita Mpu Dharma Jnana Putra dari Pasraman Lingga Hyang Waringin, Cempaga,  Bangli, pada masa lampau, pernah hidup seorang Raja Bali bertubuh manusia berkepala Raksasa yang sakti mandraguna. Karena kesaktiannya itu, Raja Bali ini hendak menyerbu Indra Loka. Para Dewa pun ketakutan, lalu memohon Dewa Vishnu untuk memberikan perlindungan.  Dewa Vishnu lalu turun ke bumi sebagai Avatara berwujud manusia cebol yang disebut Bhagawan Wamana untuk menaklukkan Raja Bali.  Bhagawan Wamana konon disebut-sebut sebagai leluhurnya orang-orang Bali.  Dari cerita ini dapat ditarik benang merah bahwa Pulau Bali memiliki kekuatan spiritual yang dahsyat karena menjadi tempat berstananya Dewa Vishnu yang kemudian melahirkan orang-orang Bali sehingga orang-orang Bali  memiliki karakter spiritual yang baik.  “Itulah sebabnya Pulau Bali disebut Pulau Dewata, Pulau Sorga atau Pulau Seribu Pura” tegas Ida Pandita. Kitab suci Weda, kata Ida Pandita, ibarat sebuah pohon. Akarnya ada di India, cabang dan ranting-rantingnya ada di mana-mana sedangkan bunga dan buahnya ada di Bali. Jadi, antara Bali dan India memiliki kaitan yang sangat erat dilihat dari segi sejarah turunnya Kitab suci Weda.

Tantangan jika Bali benar-benar menjadi pusat Hindu dunia adalah orang Bali haruslah selalu pratyaksa prama (eling lan waspada), hati-hati terhadap ancaman dari luar. Kenapa harus hati-hati karena Agama Hindu itu sangat fleksibel terhadap budaya asing. “Orang Bali harusnya lebih mengerti Hindu, juga mesti lebih mampu membedakan mana budaya dan agama. Orang Bali harus lebih mampu menonjolkan sifat-sifat agamais, tidak hanya mengerti adat dan tradisinya” demikian beliau mewanti-wanti, jangan justru B-A-L-I (Belog, Ajum, Lengeh, Iri).

Dengan terpilihnya Bali sebagai pusat Hindu beliau berharap masyarakat Bali akan lebih paham dalam menjalankan agama dan spiritual, menjadi lebih rendah hati dan mampu menumbuhkan kesadaran kehinduan di mata internasional. “Jangan hanya berkutat dalam ritual semata, tetapi hendaknya mau belajar spiritual melalui kitab suci Weda” harapnya. Menurutnya, ada beberapa keuntungan dengan terpilihnya Bali sebagai Pusat Hindu dunia antara lain secara non-ekonomi, akan terjadi peningkatan kesadaran beragama yang baik kalu umat Hindu di Bali mau belajar, posisi tawar Hindu naik di mata nasional dan internasional. Secara ekonomi,  Bali akan lebih populer sebagai daerah turis internasional (daerah pariwisata spiritual)  sehingga memberikan income lebih besar bagi penduduknya. Namun, hendaknya masyarakat Bali selalu eling lan waspada akan ancaman luar, jangan lupa diri. “Kalau terlalu bangga apalagi lupa diri, saya khawatir Bali bukannya jadi incaran turis tetapi teroris, ini yang perlu diwaspadai” katanya mengingatkan. (*)

Registrasi Online
online
Kategori Berita
Photo Gallery
Ks-Arsana swamiji-paratmananda-saraswatiji IGG-Jelantik Tari-Sekar-Jagat HH.-Swami-Paramatmananda-Saraswati D.-Veerendra-Heggade-Djarmadhikari
Komentar
Selamat Datang di Website World Hindu Parisad