Working Committe

Working Committee

World Hindu Wisdom Meet adalah agenda pertemuan tahunan yang juga dimandatkan dalam Bali Charter yaitu pertemuan untuk membahas isu-isu penting yang sedang terjadi dalam perkembangan masyarakat Hindu Dunia agar kita mampu mewujudkan policy terhadap isu-isu tersebut dan juga merupakan ajang pertemuan untuk pelaporan dan evalusasi terhadap apa yang sudah dikerjakan selama satu tahun dari Badan Pekerja World Hindu Centre serta menyususun Rencana Strategis (Renstra) untuk aktivitas World Hindu Centre.

Untuk hal menjalankan tugas-tugas tersebut telah dibentuk sebuah working committee yang merangkul semua elemen Hindu, baik di dalam negeri maupun di luar negeri  yang mempunyai tugas:

  • Mempersiapkan World Hindu Wisdom Meet 2013
  • Mendesign organisasi World Hindu Parisad

Susunan Panitia Working Committee

Board of  Advisers:

Chairman                      : Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa

Executive Secretary      : Ida Pedanda Putra Telabah

Members  :

  1. Ida Pedanda Gede Made Gunung
  2. Ida Pedanda Isteri Oka Sidemen
  3. Ida Pedanda Gede Bang Buruan Manuaba
  4. Ida Pedanda Gde Kerta Arsa
  5. Ida Pedanda Gede Panji Sogata
  6. Ida Sri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa
  7. Ida Pandita Mpu Jaya Dangka Ramana Putra
  8. Sire Mpu Sri Dharmapala Vajrapani
  9. Ida Rsi Bhujangga Arimbawa Puja Segara
  10. Ida Acarya Yogananda
  11. Ida Pandita Mpu Jaya Acharyananda
  12. Ida Pandita Mpu Nabe Siwa Putra Paramadhaksa Manuaba
  13. Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda
  14. Ida Pandita Jaya Satwikananda
  15. Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Dharmika
  16. Nek Sando Tato Dena
  17. Pandita Siwa Sri Satya Silen Gurukal
  18. Ida Pedanda Putra Pidada Keniten
  19. Ida Pandita Dang Guru Suweca Dharma
  20. Pandita Sius D Daya
  21. Sri Kanjeng Bhagawan Istri Agung Ratu Gayatri
  22. Ida Pandita Mpu Prama Natha Ratu Bagus
  23. Sri Bagawan Nehwa Jagad Karana
  24. Ida Bhujangga Rsi Hari Anom Palguna
  25. Sri Jaya Nara
  26. Swami Vigyananand
  27. Swami Paramatmananda Saraswati
  28. Acharya Amrender Muni Ji Maharaj
  29. Chinmay Panda
  30. Jayapataka Swami Maharaj
  31. S A Maa Krishna
  32. Sri Sri Ravi Shankar
  33. Made Mangku Pastika (Gov of Bali)
  34. IB Yudha Triguna (Director General of Hindu Affair)
  35. Sang Nyoman Suwisma (Chairman of PHDI)
  36. AA Puspayoga (Vice Govenor of Bali)
  37. AA Ngurah Oka Ratmadi (Chairman of DPRD Bali)
  38. Jero Gde Suwena Putus Upadesa (MUDP)
  39. Dewa Gede Suasta (MUDP)
  40. Prof. Subash Chandra Dash
  41. Anand Krishna
  42. Nyonya Rataya Suwisma  (WHDI Pusat)
  43. Nyonya Bintang Puspayoga (WHDI Bali)
  44. I Wayan Wita
  45. Tokoh Hindu Nusantara  lain (disi oleh PHDI Pusat)

 

WORKING COMMITTEE

Chairman                 : I Made Bakta

Vice Chairman           :  Gde Made Sadguna

Executive Secretary    :  Made Suastra

Treasure                   :  Agus Sumantri Mantik

Subcommittee:

1.      Secretarial Office

  1. I.K.G Dharmaputra
  2. Arya Suharja
  3. Wayan Kenak
  4. I Made Suasti Puja
  5. Erika

2.      Legal

  1. Dewa Palguna
  2. Yanto Jaya SH
  3. Cok Gede Atmaja
  4. IB Gde Subawa
  5. I Ketut Sudiarta
  6. Nengah Suantra
  7. Gde Indria

3.      Organization

  1. IGN Sudiana
  2. Ketut Wiana
  3. Putu Wirata Dwikora
  4. Dewa Putu Sukardi
  5. Pradnyana Sudibia
  6. Tuni Sakabawa
  7. Made Budi Arsika
  8. Oka Mahendra
  9. Gede Sudibya
  10. IB Pradnyan
  11. D Suresh Kumar
  12. Ketut Arnaya

4.      Management Information System/Information Technology

  1. Widnyana Sudibia
  2. Ir Pande
  3. Yan Mitha Dyaksana

5.      Fund Raising/Treasury

  1. Ir. Made Mandra
  2. Joni Artha
  3. Br. Indra Udayana
  4. Ngurah Suwena
  5. Erlangga Mantik
  6. Nyoman Aryawan
  7. I Gde Ardika
  8. Ramanta
  9. Dwi Randra
  10. Dewa Rai Asmara

6.      International Relation

  1. KS Arsana
  2. Made Amir Karang
  3. Wayan Sayoga
  4. I Gst Raka Panji Tisna
  5. Chicco Tatriele
  6. IB Adnyana
  7. Ketut Putra Erawan

7.      Public Relation

  1. Ir. Nyoman Merta Wigarbha
  2. Maharda
  3. Wayan Suparta
  4. Eka Wartana
  5. I Gusti Gde Jelantik, S.S
  6. Ketut Widi Putra
  7. I Made Perwira Duta, S.S
  8. Nyoman Surayasa

8.      Logistic/Internal Affair

  1. Ni Made Suasti
  2. Gaurangi DD
  3. Diajeng Wiwi
  4. Nyoman Wiadnyani
  5. Ni Nengah Pariasih
  6. W Eryani
  7. Ketut Suena
  8. A.A Ngr A. Adi Pratama
  9. Komang Ardika

Dukungan dan Support dari berbagai pihak

Dukungan untuk cita-cita mulia ini terus mengalir dari berbagai pihak, dari DPRD setelah kami mengadakan audensi pada Tanggal 13 September 2012, diterima oleh Ketua, Wakil Ketua dan Para Ketua Komisi. DPRD Bali. Mereka menyambut baik dan mendukung dengan memperjuangkan anggaran World Hindu Summit 2013 akan masuk dalam anggaran Induk APBD Bali serta akan menyediakan tanah untuk pembangunan gedung World Hindu Centre sebagai sebagai pusat kajian Hindu dan simbol dari persatuan Hindu Dunia.

Begitu pula pada saat audensi dengan Gubernur Bali pada tanggal 14 September 2012, di Jayasaba, bersamaan dengan acara doa bersama atas kesembuhan Bapak Made Mangku Pastika, beliau juga menyambut baik kegiatan ini

Kami juga mengadakan acara simakrama antara masyarakat Hindu di Jakarta, Dirjen Bimas Hindu, PHDI Pusat dan Working Committee World Hindu Parisad yang diadakan pada tanggal 7 September 2012 di Jakarta, dukungan dan support positif juga kami dapatkan dalam acara tersebut.

 Program World Hindu Centre

Untuk eksistensi dan konsern kami terhadap masyarakat walaupun baru merupakan embrio lahirnya World Hindu Centre (Pusat Hindu Dunia) yang sekretariat tetapnya berada di Bali sesuai dengan amanat Bali Charter, dalam waktu dekat ini kami akan mengadakan event-event yang sebagai berikut :

Workshop Ekonomi Kerakyatan Menggali Pemikiran Amartya Sen

Beberapa tahun terakhir ini terutama di Perguruan Tinggi di seluruh dunia, studi tentang Ekonomi Kesejahteraan (Welfare Economics) menjadi sangat populer. Salah seorang pakar terkemuka dunia bidang ekonomi adalah Amartya Sen yang memperoleh Hadiah Nobel Bidang Ekonomi tahun 1998.

Menurut Sen pembangunan bukan hanya soal peningkatan ekonomi dan pertumbuhan pendapatan. Lebih dari itu, pembangunan harus diarahkan pada pembangunan manusia secara keseluruhan, mulai dari aspek kesejahteraan hingga aspek yang paling esensial, yakni kemerdekaan manusia itu sendiri. Manusia mencita-citakan kehidupan yang sejahtera, namun pada saat yang sama, manusia juga mengidealkan adanya kemerdekaan berkeyakinan, beragama, berpendapat dan berekspresi.

Buah pikiran Amartya Sen yang memposisikan masyarakat sebagai subyek pembangunan dan indikator keberhasilan pembangunan adalah kemakmuran masyarakat yang paling papa bukan kenaikan GNP.  Hal ini sudah sangat banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia termasuk PBB dalam MDGs. Gagasan-gasan Amartya Sen ini bertolak belakang dengan Trilogi Pembangunan yang dikembangkan pada masa Orde Baru yaitu stabilisasi disegala bidang, masuknya investasi yang berakibat pada kemakmuran rakyat.

Amartya Sen juga berpendapat bahwa Acceptance / Toleransi (Swakerti) dalam hubungannya dengan pandangan dan keimanan dapat ia terima, akan tetapi ia menolak toleransi terhadap kesenjangan sosial (ada orang miskin dan ada orang kaya dan dibiarkan tetap demikian) serta pada saat Amartya Sen mendefinisikan bahwa Development as Freedom (Pembangunan adalah Kemerdekaan), ia mengatakan bahwa Freedom is the principal means and primary end of development (Kemerdekaan adalah arti yang paling mendasar dan tujuan akhir yang utama dari pembangunan).  Hal ini sesuai dengan Dharma yaitu Kesatuan Jalan dan Perbuatan, bilamana jalannya tidak baik walaupun memiliki tujuan yang mulia itu bukanlah Dharma (Kemerdekaan) Demikian juga sebaliknya sehingga memiliki arti yang sama dengan Tan Hana Dharma Mangrwa

Pemberdayaan masyarakat (capability) dengan peningkatan kesehatan (basic health care) dan pendidikan (basic education) masyarakat juga menjadi buah pikiran dari Amartya Sen, sehingga masyarakat yang memiliki pemberdayaan yang baik dapat mengambil atau pun membuka kesempatan baru dan tidak tergantung pada pemerintah, investor maupun kondisi ekonomi global

Hal seperti ini sangat cocok bagi kita yang sudah terbukti bisa bertahan dalam krisis global tahun 2008 karena basis ekonomi Indonesia adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Bagi para pengambil kebijakan, praktisi perbankan, pengusaha, pengajar dan dosen yang ingin mengetahui lebih dalam gagasan-gagasan Amartya Sen untuk selanjutnya dapat diterapkan pada lembaga masing-masing dalam rangka memperkuat landasan pembangunan  ekonomi yang berbasis kepada ekonomi kerakyatan, sebaiknya mengikuti workshop Ekonomi Kerakyatan menggali pemikiran Amartya Sen.

Workshop ini akan dibawakan oleh team dari Indonesian Institute for Development and Democracy dengan narasumber dan fasilitator diantaranya adalah :

  • Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo
  • Dr. B. Herry Priyono
  • Sunaryo
  • Henry T. Simarmata

Worksop ini diadakan pada tanggal 13-14 Oktober 2012 di Gedung Paska Sarjana Universitas Udayana Denpasar.

KARTIKA BALI YATRA

Orisa adalah daerah pesisir pantai yang merupakan wilayah terbesar ke-9 dari Negara India yang berlokasi di pesisir  timur India tepatnya di Teluk Bengal. Dulu, Orisa sebuah kerajaan bernama Kalingga. Pada 1 April 1936 berubah nama menjadi Orisa dan ibu kota negaranya berpindah dari Cuttack ke Bhubaneswar.

Bali Yatra atau dikenal juga sebagai Boita-Bandana Festival adalah festival yang dirayakan pada bulan Purnama Kartika (Oktober – November) di tepi Sungai Mahanadi di Kota Cuttack, Orisa. Festival ini dirayakan beberapa hari sebelum bulan purnama untuk mengenang warisan Maritim Orisa dan sebagai puncak dari perayaan keagamaan pada Bulan Kartika.

Dalam festival tersebut, penduduk orisa berkumpul di tepian sungai atau pesisir pantai dan mengapungkan miniatur perahu (boita) yang terbuat dari kertas berwarna, pelepah pisang yang kering dan gabus serta berisi lampu minyak kecil yang diluncurkan setelah matahari terbenam sambil menyanyikan lagu daerah Orisa sebagai simbol pelayaran leluhur mereka ke Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Srilanka.

Sejarah Bali Yatra

Ada dua versi dalam sejarah Bali Yatra yaitu:

Kalinga Bali Yatra erat kaitannya dengan perjalanannya Chaitanya Mahaprabu, 500 tahun lalu, menyusuri Sungai Mahanadi ke Puri,  Beliau menyeberangi hamparan pasir di Sungai Mahanadi. Dan hamparan pasir ini Beliau sebut sebagai Bali. Dengan demikian perjalanan Beliau disebut Bali Yatra.

Cerita yang lain mengacu pada sejarah India dan Indonesia dalam hal ini Pulau Bali yaitu terjadi perdagangan dan percampuran budaya pada masa lampau di  kedua belah pihak. Kapal dagang dikirim pada purnama Bulan Kartika dan berlayar ke Sumatera, Bali dan Jawa.

Bali Yatra juga disemarakkan dengan festival. Festival ini juga digelar pameran yang cukup besar dengan memamerkan sangat banyak jenis produk yang sekaligus diperjualbelikan.  Tepian sungai tempat penyelenggaraan festival menjadi ramai karena suasana perayaan.  Ada ayunan dan fasilitas untuk menaiki perahu menyusuri tepian sungai di bawah cahaya sinar rembulan. Festival ini memberikan dampak ekonomi yang besar terhada Orisa karena acara ini  mampu menarik jutaan orang dari wilayah lain India datang ke acara ini.

Selain berupa sebuah festival, Bali Yatra juga dimaknai secara spiritual yaitu Pemujaan kepada Karthikeshwar yaitu nama lain dari Dewa Siwa yang dipuja saat Bulan Kartika.

Dengan dasar hal tersebut untuk menjaga hubungan baik kedua Negara yang telah terjalin sejak masa kerajaan dimana para pelaut Kalingga berlayar ke Indonesia terutama Bali untuk misi perdagangan dan budaya serta hubungan baik antara pimpinan Orisa Biju Patnaik dengan Bung Karno pada masa revolusi yang berkontribusi untuk perjuangan kemerdekaan kita maka pada tanggal 29 Oktober 2012 akan berlabuh Kapal dari Orisa di pelabuhan Benoa untuk memperingati Festival Bali Yatra.

Untuk untuk mempererat tali persaudaraan antara Kalingga (Orisa) dan Bali maka kami akan menyambut awak kapal dari orisa dengan festival Budaya bertajuk Kartika Bali Yatra

Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Pemerintah India melalui Konsulat India di Bali, Universitas Udayana, Pemerintah dan Working Committee World Hindu Parisad.

Kampanye Seribu Membangun Pusat Hindu

Rencana yang mulia dan besar ini tentu saja akan memerlukan pendanaan yang besar, sehingga membutuhkan dukungan dari segenap masyarakat Hindu dan pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif.

Dalam menggalang dukungan dari masyarakat Hindu, kami mengadakan sebuah kampanye : “Mulai dari Seribu, Membangun Pusat Hindu” sebagai aksi solidaritas dan sebagai wujud semangat kita untuk bersatu yaitu:

“Mulai dari Seribu Membangun Pusat Hindu”

Sering kita menganggap bahwa uang Rp. 1.000 terlalu kecil.  Jika dibelikan makanan sepertinya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan satu orang, apalagi satu keluarga. Jangankan Rp. 1.000, uang satu juta pun tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan  kita karena keinginan kita tidak terbatas. Jika nilai Rp. 1.000 itu dibiarkan berdiri sendiri, ia tidaklah bernilai apa-apa. Sungguh terlalu kecil.

Namun,  belajar dari  kisah koin Prita dan pengumpulan koin-koin yang lain kita terhentak dengan fakta bahwa, empati “persatuan” ternyata lebih dashyat dari pada apa yang kita kira. Usaha pengumpulan koin tersebut membuktikan persatuan hati yang tulus ikhlas yang menghasilkan kekuatan hebat.   Nilai yang terkumpul dari pengumpulan koin itu sangat luar biasa bahkan melebihi apa yang diharapkan.

Makna aksi ini bukanlah terletak pada jumlah yang akan, sedang dan telah  kita kumpulkan. Namun ada nilai yang terpenting dari semua ini. Ia bernama “semangat persatuan”.  Apakah yang tidak bisa dikerjakan dengan sebuah semangat persatuan ?   Dalam Hindu kita diajarkan,  “Unity is Divinity” artinya persatuan adalah kekuatan Ilahi.   Uap air  yang tak terlihat  di udara jika bersatu akan menampakan diri  menjadi embun. Embun yang banyak di awan akan menampakkan diri menjadi hujan. Hujan yang sangat lebat bisa manampakkan diri menjadi banjir bandang.  Jumlah miliaran tetesan air yang lembut, jika bersatu akibat dorongan pergerakan kerak bumi, ia bisa berubah menjadi bencana tsunami yang menghancurkan batu karang yang sebelumnya amat kokoh berdiri.

Oleh karena itu, mulai saat ini,  mari kita kumpulkan uang Rp. 1.000 setiap orang setiap saat. Ubahlah ia menjadi sebuah Gedung Hindu Center melalui “Semangat Persatuan”.  Buktikan bahwa,  anda dan kita semua mencintai Hindu. Lakukan ini sebagai bentuk ekspresi bahwa anda dan kita sangat peduli kepada kemajuan Hindu.  Jangan pikirkan betapa sedikitnya nilai Rp. 1.000 untuk sebuah gedung yang pasti memerlukan biaya miliaran rupiah. Ingatlah bahwa, lautan berasal dari setetes embun, bumi, bulan dan jagad raya pun  sebenarnya tak lebih dari kumpulan butir-butir debu yang bersatu padu.  Itulah makna dibalik perkataan “Unity is Divinity”, bersatu adalah kekuatan Ilahi.

Jika saat ini menurut perkiraan di Indonesia ada 10,000,000 ( sepuluh juta umat Hindu ),  maka jika setiap orang Hindu menyisihkan Rp 1,000, sekali yadya akan terkumpul Rp 10,000,000,000 ( sepuluh miliar ). Jika satu bulan Hindu Indonesia punya Rp 10 M, maka setahun Hindu akan punya Rp 120 M.  Dalam 10 tahun umat Hindu akan memiliki uang Rp 1,2 Trilyun . Uang Ini akan cukup untuk membangun sebuah Gedung yang sangat megah dengan segala fasilitas modern dan teknologi paling mutakhir.  Ini adalah dana yang fantastis yang akan mampu membuat SDM unggulan Umat Hindu dan persiapan persaingan untuk minimal 100 tahun ke depan.

Ini perhitungan yang sangat mendasar, belum lagi jika ada donatur yang menyumbang lebih karena kemampuan orang berbeda –beda dan tidak akan menutup kemungkinan donatur besar dunia yang concern terhadap Hindu.

Penutup

Sebagai akhir kata semoga niat luhur ini didukung oleh semua pihak, saran dan masukan sangat diharapkan demi kelancaran mewujudkan cita-cita mulia ini. Dengan semangat persatuan kita satukan itikad baik, tekad, semangat serta visi dan misi kita untuk menciptakan keharmonisan, kedamaian dan kesejahteraan umat Hindu se dunia.

Om Shanti, Shanti Shanti Om

Registrasi Online

online

Kategori Berita

Photo Gallery

besakih-1 Veerendra Tari-Okokan Konser-amal-11 Hellen-n-Mantik Shantidoot-Amrender-Muniji-Arhum-Yoga

Komentar

Selamat Datang di Website World Hindu Parisad